Career Optimizer

Rp160,000.00

 

Penulis:

Aviantara Budi Prasetyo

Apakah Anda salah seorang karyawan yang terwakili oleh salah satu dari ke-4 ilustrasi di atas?
Bagaimana mereka memperbaiki diri agar kinerjanya lebih baik lagi?
Kira-kira apa yang atasan atau perusahaan lihat dari prestasi dan kinerja ke-4 karyawan tersebut?
Mengapa ada rekan kerja kita yang mendapatkan apresiasi dan promosi dalam kondisi seperti ini ya?
Temukan jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara praktis dan teknik untuk melakukannya dalam buku ini, 3 Langkah Praktis untuk mengMEMAKSIMALkan karir dan mendapatkan posisi terbaik sebagai  karyawan dengan cara KENALI, TEMPA dan TINGKATKAN #versiTERBAIK Anda.Bila anda ingin sukses sebagai karyawan dan keluar dari kerumunan yang sibuk bergosip, menganalisa teman sekantor di pantry kantor atau di warung kopi depan kantor. Inilah buku yang Anda perlukan untuk mencapainya.

 

 

Category:

Description

Dimas, 25 tahun – Lulusan S1 Universitas Negeri ternama. Lulus dengan total IPK kumulatif 3.8 dan sering menjadi mahasiswa teladan di universitasnya. Aktivis kampus juga – aktif ikut2an kegiatan di kampus, kadang jadi ketua seringnya jadi peserta saja – Lulus semenjak 2 tahun lalu dan langsung berkerja di Perusahaan Modal Asing (PMA) yang cukup mentereng di ibukota negeri ini.

Namun selama hampir setengah tahun belakangan ini prestasi kerjanya dirasa semakin turun; tidak ada seperti kemarin setelah on-boarding training selesai; ndak tau juga cara untuk menaikkannya lagi; rasanya tidak ada yang membantu di kantor; hingga mulai muncul perasaan tidak kerasan kerja di perusahaan itu. Si bos, sekarang ini sifat demanding-nya tinggi banget. “Bila tahun lalu masih sering membantu dan mengarahkan, saat ini sepertinya sudah membiarkan saya dengan masalah saya!”

Di mata beliau ada saja kekurangan yang saya buat dalam pekerjaan; mulai dari lupa matiin lampu saat selesai lembur malam, hingga content yang menurutnya ada yang salah! Padahal saya sudah mengikuti arahannya. Bahkan pencapaian individu pun banyak yang komentari, rasanya ndak ada yang beres semua pekerjaan yang dilakukan.Sudah bekerja keras sampe harus pulang larut malam atau seringkali sudah mendekati waktu shubuh; namun tetap saja hasil kerjanya dipermasalahkan oleh si bos  seringkali saat di rumah pun masih juga mendapat telpon dan ditanya masalah pekerjaan. Boro-boro mau mikirin berkarir di perusahaan ini, bisa survive alias bertahan saja dah syukur rasanya.

Robby, 39 tahun – Staff Marketing Senior perusahaan otomotif ternama, sangat berpengalaman dibidang penjualan dan pemasaran. Beberapa kali meraih penghargaan sebagai pemasar terbaik diperusahaan tersebut. Telah bekerja selama lebih dari 10 tahun di perusahaan tersebut.

Tapi… dia merasa prestasi puncaknya sepertinya sudah lewat, masih tetap sebagai staff walau penghargaan sudah mulai di ambil alih olehpara pemasar yang lebih muda. Rasanya bekerja lebih banyak lagi pun sudah tidak dapat menandingi kecepatan para anak-anak muda sekarang.

Menurutnya suasana kerja pun sudah tidak mendukungnya; banyak teman seangkatannya yang telah pindah kerja dan “rasa kebersamaan” yang selama ini dirasakan pun mulai hilang, sangat individualis lah sekarang. Terutama di bandingkan dengan tahun2 sebelumnya. Perubahan yang besar ini membuatnya sedikit frustasi, belum lagi proses yang berubah saat ini. Internet dan otomatisasi ternyata hanya membuatkan pekerjaan tambahan buat dia. Sudah ikut training macem2 malah tambah bingung lagi.

Belum lagi bos muda yang mulai menyinggung2 kesenioran saya, “mosok senior masih perlu di ajarin dan diberi tahu untuk pekerjaan seperti itu?” nadanya terdengar sumbang di telinga Robby dan di depan banyak audience pula. Duh kinerja dianggap renda deh… keluar aja apa ya?

Dewi, 30 tahun – seorang Supervisor di perusahaan kosmetik. Saat ini sedang merenungi perjalan karir yang telah dimulainya 4 tahun lalu. Ini adalah Perusahaan ke 3 yang pernah disinggahi dalam kurun waku 8 tahun. Sudah memulai karirnya sebagai karyawan sejak kuliah sebagai pekerja magang disalah satu perusahaan yang bekerja sama dengan kampusnya.

Dewi merasa senang bekerja diperusahaan terakhir ini, dimulai karirnya sebagai staf administrasi, lalu ke pemasaran, sempat mendapat project di bidang finance, sehingga perjalan karirnya cukup cepat hingga menempati posisi Supervisor – membawahi beberapa anak buah. Fasilitas dan benefit yang didapatkannya sudah lebih dari cukup bagi Dewi, hanya saja keinginannya untuk mencapai posisi manager dirasakan sulit. Terutama setelah terjadi perubahan pimpinan puncka yang semakin muda saja usia mereka, early 40 and below…

Aturan banyak yang dirubah dan rasanya strategy perusahaan semakin tidak jelas, pekerjaannya yang biasanya mendapat apresiasi cukup baik bahkan excellent dari para atasan, saat ini hanya dipandang sebelah mata dan biasa saja. Koq rasanya jadi bikin agak “down” ya… serasa kemampuan ini tidak semumpuni dahulu lagi. Kalo sudah begini koq dia merasa tidak dibutuhkan lagi dan rasanya seperti itu, apalagi setelah dia coba berbicara dengan rekan-rekan sekerjanya. Ternyata mereka mengalami hal yang sama… Banyak aturan yang berubah dan terasa mempersulit dan makin mengekang mereka untuk berprestasi lebih seperti dahulu. 4 tahun berprestasi seperti bintang dan termasuk dalam potential talent group diperusahaan ini; namun begitu strategy perusahaan berubah. Wusss… hilang saja semua impian itu!

Jangan-jangan Dewi tak mampu lagi mewujudkan mimpinya untuk menjadi manager lalu salah satu direktur wanita pertama sebelum usianya menginjak 40 tahun.

Iwan, 35 tahun – Kepala Cabang perusahaan Retail. Menjadi kepala cabang sudah dijalaninya selama hampir kurang lebih 5 tahun belakangan ini, prestasinya yang gemilang sebagai salesman dan terbukti mampu memimpin grup penjualan di perusahaan ini dan sebelumnya yang meyakinkan para pengambil keputusan di perusahaan ini memberikan jabatan sebagai Kepala Cabang.

Hanya saja koq… dah 5 tahun dia merasa tertanam di cabang daerah, walaupun sudah menunjukkan prestasi yang baik (menurut pendapatnya – tidak sering namun pernah 2x mendapatkan penghargaan dari kantor pusat, setelah itu tidak ada sesuatu yang baru .red). Scorecard nya cukup baik, walaupun tidak melebihi yang target yang tertulis disana namun memenuhi semua yang menjadi keinginan perusahaan dalam scorecard tersebut. Tidak ada gejolak yang berarti di perusahaan, karena dia memastikan semua anak buahnya bekerja sesuai yang apa yang diinstruksikannya, berdasarkan aturan perusahaan dan keinginan para pengambil keputusan di kantor pusat di ibukota negara ini.

Baru-baru ini ada salah satu kepala cabang yang menurutnya tidak terlalu bagus dan prestasinya juga biasa saja, ditarik ke Jakarta. Menduduki posisi yang menjadi incarannya. Dia tidak habis mengerti mengapa bisa seperti itu. Kecakapannya mengelola cabang juga tidak kalah –masih menurut Iwan sendiri – namun kenapa dia yang mendapatkan kesempatan untuk bekerja di kantor pusat? Percuma rasanya bekerja selama ini mengelola cabang… bila apresiasi perusahaan hanya sebatas ini saja.

Apakah Anda salah seorang karyawan yang terwakili oleh salah satu dari ke-4 ilustrasi di atas?
Bagaimana mereka memperbaiki diri agar kinerjanya lebih baik lagi?
Kira-kira apa yang atasan atau perusahaan lihat dari prestasi dan kinerja ke-4 karyawan tersebut?
Mengapa ada rekan kerja kita yang mendapatkan apresiasi dan promosi dalam kondisi seperti ini ya?
Temukan jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara praktis dan teknik untuk melakukannya dalam buku ini, 3 Langkah Praktis untuk mengMEMAKSIMALkan karir dan mendapatkan posisi terbaik sebagai  karyawan dengan cara KENALI, TEMPA dan TINGKATKAN #versiTERBAIK Anda.Bila anda ingin sukses sebagai karyawan dan keluar dari kerumunan yang sibuk bergosip, menganalisa teman sekantor di pantry kantor atau di warung kopi depan kantor. Inilah buku yang Anda perlukan untuk mencapainya.

 

Aviantara Budi Prasetyo

Aviantara Budi Prasetyo – dengan latar belakang pendidikan terakhir di Unversitas Padjajaran, Bandung lulus pada tahun 1995 dari Fakultas Pertanian Unpad, Jurusan Teknologi Pertanian dengan Program Study Alat & Mesin Pertanian berpengalaman sebagai karyawan perusahaan selama 23 tahun di 7 perusahaan berbeda, baik perusahaan lokal maupun internasional mulai dari posisi administrasi, supporting function, application engineering, salesman, marketing hingga ke people development telah dijalaninya selama kurun waktu tersebut.

Puncaknya sebagai orang Indonesia pertama yang menduduki posisi ASEAN Market Sell Leader di perusahaan AgroIndustri multi-nasional. Memastikan team sales-marketing di Regional ASEAN mendapatkan training dan development yang tepat untuk mencapai target tiap Negara dan sekaligus menunjang karir mereka.

Dengan pengalamannya yang dimulai dari bawah hingga dapat membawahi ratusan karyawan baik yang berstatus pegawai tetap maupun kontrak, beliau memiliki pengalaman yang cukup lengkap untuk bercerita bagaimana membangun karir di perusahaan sebagai seorang karyawan. Berdasarkan pengalaman diri sendiri dan juga berdiskusi dengan rekan-rekan karyawan maupun mantan karyawan.

Bagaimana beliau berhasil membantu beberapa karyawan mengembangkan dirinya untuk mencapai posisi tertinggi di perusahaan, melalui program internal coaching yang dilakukan dahulu merupakan sarana beliau untuk menerapkan semua teori yang dituangkan dalam buku Career Optimizer ini. Beberapa training tentang Career Optimizer ini sudah banyak dilakukan oleh beliau yang lebih berfokus pada customer-customer di corporate segment dibandingkan dengan public segment. Terutama untuk perusahaan yang ingin memiliki program yang produktif dalam mengembangkan talent people dan/atau untuk membangun people development program

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Career Optimizer”

Your email address will not be published. Required fields are marked *